Sejak beberapa bulan yang lalu, aku masuk ke dalam sebuah komunitas yang sangat luar biasa. Ya, aku resmi menjadi bagian dari sebuah sekolah komunikasi, Kahfi bagus Brain Communication School. sSekolah ini tak hanya tentang komunikasi, lebih dari itu semua. Kahfi adalah sekolah kehidupan yang mengajarkanku tentang banyak hal. Salah satunya adalah tentang konsep kebahagiaan sejati. Nah, ini adalah notes facebook dari teman sekost-ku yang kebetulan satu kampus denganku di Kahfi :)
oleh Dian Aulia Alwalidi pada 6 Desember 2011 pukul 22:47
Coba kita perjelas dengan contoh, misalkan saja kita ingin bepergian tetapi tiba-tiba saja hujan turun deras, biasanya kita akan mengeluh dan berkata, “aaah,,, kok malah hujan sih, bisa batal pergi ni”. Ketika kita mengeluh seperti itu, seketika perasaan menjadi kesal, mood menjadi jelek. Coba kalau reaksi kita sedikit diubah dan berkata, “alhamdulillah hujan, jadi udaranya gak panas lagi. oke, aku pergi bawa payung deh.” Pasti akan berbeda kan rasanya??? Lebih bahagia yang mana?
Contoh lainnya, banyak mahasiswa yang mengeluh ketika baju kotor menumpuk, malas sekali rasanya untuk bergerak dan segera mencuci karena terbayang betapa capeknya mencuci sebanyak itu. Namun, mahasiswa yang “memilih” untuk bahagia akan berkata, “ayok mencuci, harus dengan semangat dooonk…kan bajunya bakal aku pake buat kuliah, bakal aku pake jalan-jalan n ketemu sahabat2ku”; sedangkan seorang istri yang memilih untuk bahagia akan berkata, “ semangaat mencuci! bajunya kan mau kupake, harus bersih donk…biar tetep cantik. Seragam anak-anak juga harus dicuci bersih, kan mau dipake buat sekolah. Nah, baju ayah juga harus kinclong… biar keliatan ganteng kalo berangkat kerja :D”. Nah, bagaimana? menjadi bahagia itu mudah kan?
Bahagia sejati adalah bahagia tanpa syarat. Kebanyakan orang mematok criteria kebahagiaannya dengan berkata, “aku akan bahagia kalau aku dapat IP 3,8; aku bahagia kalau anakku dapat rangking 1; aku akan bahagia kalau aku menjuarai lomba ini”. Yah… tidak salah memang, tetapi sangat disayangkan jika hidup kita yang hanya sebentar ini tidak kita jadikan alasan untuk selalu bahagia kan?Memang, jika kita gagal untuk mencapai cita-cita, kita akan merasa kecewa. Namun, coba kita lihat, pasti ada rencana Tuhan yang lebih indah, bukan?
Bahkan ketika seseorang pengidap kanker stadium akhir masih punya kesempatan untuk hidup bahagia, jika dia mau. Justru perasaan bahagia itu lah yang dibutuhkan olehnya, karena ketika hidupnya bahagia dan penuh syukur, otomatis, semangatnya untuk sembuh akan meningkat dan ingat, kuasa Tuhan itu tak terbatas, sangat mudah bagi Tuhan untuk memberikan kesembuhan baginya :D.
Boleh merasa sedih, tapi Jangan bersedih jika kamu tahu sedih itu akan menghambat aktivitasmu dan merusak moodmu. Bersedihlah sedikit saja, jika sedih itu bisa membuatmu tercambuk dan melakukan perubahan yang positif. Boleh mengeluh, tapi jangan mengeluh jika keluhan itu hanya membuat semangatmu luntur. Percayalah, orang-orang di sekitarmu pun tidak akan suka mendengar keluhanmu. Boleh mengeluh sedikit saja, jika keluhan itu memacumu untuk menciptakan keadaan yang lebih baik.
Cuaca hari ini memang panas
dan akan terasa lebih panas jika kau mengeluh,
jadi mengapa tidak kamu nikmati saja?:D
Menjadi renungan untukku... kadang aku memang mengeluh terhadap apa yang terjadi disekitarku tapi ternyata baru sadar kalau kebahagiaan sejati itu adalah kebahagiaan tanpa syarat... makasih sobat udah berbagi...
BalasHapusHampir satu tahun yah semenjak postingan ini di posting :)
Salam kenal yah sebelumnya soalnya ini kunjungan pertamaku ^._.^